Thursday, 2 December 2021

Tidak Sempurna


Sebelum yang dititipkan Tuhan dijemput pulang, manusia harus sadar bahwa kehidupan tidak pernah menunjukan sudut sempurna. Kali ini analogi ku puzzle, permainan paling menyenangkan yang bisa membuatku fokus cukup lama, meski setelahnya kepalaku nyeri dan mataku lelah haha

Semakin menemukan potongan-potongan hidup yang hilang, gambaran besar tentang keseluruhan kehidupan ini pada akhirnya akan semakin jelas. Apa sebenarnya yang dicari seorang manusia di tengah luasnya dunia ini? Apa yang dituju manusia dalam permainan yang menipu ini?

 
Padahal saat pulang, kita tidak membawa "standar kesuksesan" manusia itu.
 
Aku tidak tahan untuk tidak melawan prasangka orang lain. Padahal katanya diam adalah emas. Padahal sebaiknya tidak usah menjelaskan dirimu kepada siapapun terlalu keras.
 
Perihal berikhtiar sedemikan rupa, aku belajar dari Ibu. Perihal aku percaya bahwa peran penting perempuan dalam generasi selanjutnya adalah dari Ibu. Dan tentang sosok luar biasa seorang Ibu Rumah Tangga, aku melihat dari Ibu. Di tengah perdebatan dunia yang berisik, pertanyaan-pertanyaan paling sering yang aku dengar, dan praduga seenaknya dari laki-laki belum matang. "Setelah menikah apakah kamu akan tetap bekerja?"
 
Aku tidak pernah bertemu orang yang bertanya begini "mengapa kamu bekerja?" Padahal itu pembuka yang bagus untuk menganalisa hal-hal yang ingin mereka ketahui. Dari paham alasannya, paham mengapa ikhtiar seorang manusia begitu keras, kesimpulan dari gambaran tersebut lah yang seharusnya menjadi dasar penilaian terhadap apa yang diupayakan seseorang dari berbagai tindakannya. Karena tidak semua orang berlatarbelakang dan memiliki sudut pandang yang sama. Karena setiap orang itu menempuh pengalaman hidup yang bisa jadi jauh berbeda.
 

Contoh sederhananya saat kepingan puzzle pendidikan yang ku tempuh sebentar lagi selesai. Alasan-alasan mengapa kuliah lagi itu selalu jadi pertanyaan, bahkan menjadi teguran dari sebagian orang terdekat. Namun sebagian lagi justru kagum.
 
Padahal tidak ada keistimewaan apapun dari semua ini. Tidak ada kebanggan, tidak ada perasaan "harus" jadi seperti apa. Karena ini yang ku lakukan untuk kebahagiaan Ibu, harapan Ibu, dan alasanku menjawab pertanyaan paling menakutkan saat pulang "apa yang kamu lakukan saat menghabiskan waktu di masa muda mu?"

Mereka tidak percaya.

Bahwa bekerja sungguh-sungguh itu memang untuk memenuhi kebutuhan diri. Ketika diberikan tanggung jawab, maka aku melakukannya dengan upaya yang melebihi harapan yang ada dalam kepalaku sendiri. 
 
"Kamu terlalu keras pada diri sendiri."
 
Ibu bilang jika tidak melatih diri sendiri untuk mampu, maka hidup pada akhirnya akan memaksamu untuk terbiasa mampu. Lebih baik bersiap walaupun tidak mengetahui apa yang akan dihadapi, daripada berlarut-larut menjalani hari tanpa berpikiran untuk berbekal diri.
 
Dunia dan seisinya tidak tahu betapa Ibu seorang pengajar terbaik dalam hidup seorang anak perempuan ini. Guru terbaik dalam mengasihi, mencintai, berkorban begitu banyak, dan tegas dalam satu waktu yang sama.
 
Dulu aku pikir tangki cintaku tidak penuh, karena hidup dalam keluarga yang tidak sempurna. Tapi setelah aku mengamati lagi bagaimana aku mencintai sekitarku, sepertinya Ibu sudah memenuhinya sendirian.
 
Hingga sudut pandangku diajarinya agar selalu memandang pada kebaikan bahkan disaat sudah jelas sekali orang lain bersikap jahat.

Tidak ada yang tau perjalanan ini akan membawaku kemana, tapi jika ada sedikit saja hal baik yang kamu lihat dariku, itu adalah hasil dari doa dan pendidikan dari Ibuku. Sebaliknya setiap keburukan dalam tindakanku, itu adalah murni kelalaianku dan ketidakmampuanku mempelajari kehidupan dengan baik.

No comments:

Post a Comment