Sayap yang Ingin Ku Patahkan Setiap Hari
Pada setiap hal baik, kesempatan dan langkah maju yang diberikan Allah padaku, aku meragukan diri. Setiap saat.
Hal yang tidak akan aku akui setiap kali maju pada sesi wawancara atas posisi apapun. Tentu saja aku gagal jika mengakuinya, kan?
Tapi meskipun dalam banyak keraguan itu, aku tetap berusaha. Atas segala kebodohan dan ketidakmampuanku ini aku masih memilih jalan maju yang sulit. Lalu bertanya, kenapa aku?
Selanjutnya yang bisa ku lakukan hanyalah berlari sekencang mungkin, mempelajari banyak hal. Dan kemarin aku gagal.
Kata Bapak, aku gagal.
Ah, sayang sekali dengan bodohnya urusan-urusan yang seharusnya tidak aku letakkan dalam hati. Jadi terbawa berlarut-larut. Urusan kekosongan sosok Ayah ini jadi semakin panjang.
Aku terlanjur menganggap pendapat satu orang valid 100% dan menjadikannya penting.
Padahal jika penilaian itu datang dari orang asing, yang tidak penting. Mungkin hari ini aku tidak perlu mengonsumsi semua obat ini. Salahku yang menganggap orang asing seperti keluarga, dan menaruh percaya bahwa tidak akan dipermalukan dengan sedemikian rupa di depan umum.
Lalu aku begitu patah, sementara banyak orang hari ini bahagia tertawa.
Aku tenggelam dalam rasa tidak pantas, sementara banyak orang dipeluk dingin dan suasana yang ramah.
Aku adalah petarung bodoh yang mengibaskan sayap seolah bisa terbang, padahal sayapku pajangan saja.
Sindiran banyak orang, seolah aku tidak pantas.
Seberusaha apapun aku untuk berguna, menjadi yang sesuai dengan apa yang seharusnya. Tidak ada kata cukup.
Budaya ini memang seperti itu. Salahku yang membuka hati, membiarkan pendapat satu orang menjadi penting. Saat tiba waktunya penghakiman di depan umum, tanpa alasan yang jelas. Aku, hancur.





