Saturday, 14 February 2026

Sayap yang Ingin Ku Patahkan Setiap Hari

February 14, 2026 0



Pada setiap hal baik, kesempatan dan langkah maju yang diberikan Allah padaku, aku meragukan diri. Setiap saat.

Hal yang tidak akan aku akui setiap kali maju pada sesi wawancara atas posisi apapun. Tentu saja aku gagal jika mengakuinya, kan?

Tapi meskipun dalam banyak keraguan itu, aku tetap berusaha. Atas segala kebodohan dan ketidakmampuanku ini aku masih memilih jalan maju yang sulit. Lalu bertanya, kenapa aku?

Selanjutnya yang bisa ku lakukan hanyalah berlari sekencang mungkin, mempelajari banyak hal. Dan kemarin aku gagal.

Kata Bapak, aku gagal.

Ah, sayang sekali dengan bodohnya urusan-urusan yang seharusnya tidak aku letakkan dalam hati. Jadi terbawa berlarut-larut. Urusan kekosongan sosok Ayah ini jadi semakin panjang.

Aku terlanjur menganggap pendapat satu orang valid 100% dan menjadikannya penting.

Padahal jika penilaian itu datang dari orang asing, yang tidak penting. Mungkin hari ini aku tidak perlu mengonsumsi semua obat ini. Salahku yang menganggap orang asing seperti keluarga, dan menaruh percaya bahwa tidak akan dipermalukan dengan sedemikian rupa di depan umum.

Lalu aku begitu patah, sementara banyak orang hari ini bahagia tertawa.

Aku tenggelam dalam rasa tidak pantas, sementara banyak orang dipeluk dingin dan suasana yang ramah.

Aku adalah petarung bodoh yang mengibaskan sayap seolah bisa terbang, padahal sayapku pajangan saja.

Sindiran banyak orang, seolah aku tidak pantas.

Seberusaha apapun aku untuk berguna, menjadi yang sesuai dengan apa yang seharusnya. Tidak ada kata cukup.

Budaya ini memang seperti itu. Salahku yang membuka hati, membiarkan pendapat satu orang menjadi penting. Saat tiba waktunya penghakiman di depan umum, tanpa alasan yang jelas. Aku, hancur.

Wednesday, 9 April 2025

Sekali Lagi Aku Setuju

April 09, 2025 0


Sekali lagi, aku menyadari usiaku sudah 28 tahun. Sekali lagi, aku menyadari aku tidak terlalu ingin menjadi orang dewasa jika hidup hanya bersama Mama. Sekali lagi, anak kecil di dalam diriku  memaksa ku untuk tetap menjadi seorang anak manja. Sekali lagi, aku memaksa Mama memenuhi bagian yang kosong dari tangki cintaku yang seharusnya diisi oleh Ayah.

Sekali lagi, aku menjadi sensitif dan sedih jika Mama tidak dalam keadaan yang mengerti pikiranku. Padahal aku yang tidak bisa menjelaskan kekosonganku. Sekali lagi aku merengek. Sekali lagi aku menangis malam hari dan merasakan sesak.

Sekali lagi, di usia dewasaku. Aku masih gagal menerima keadaanku, takdirku, dan kekosonganku. Sekali lagi aku kalah telak oleh ego satu-satunya laki-laki yang menjadi cintaku selamanya. Sekali lagi, aku gagal memaafkan kekosongan yang ditinggalkannya dalam diriku. Kesempatan-kesempatan bertanya tentangku tanpa melukaiku. Waktu-waktu yang berjalan begitu saja tanpa ada kehadirannya, dengan alasan ia takut lebih melukaiku.

Sekali lagi, saat aku bisa mengerti perasaan orang lain dan menerima keadaan orang lain. Aku justru gagal menerima diri sendiri, aku telah gagal untuk mengerti keadaan orang tua ku. Sementara di luar sana aku menjadi si pengertian ulung, aku menuntut lebih dimengerti dalam rumahku yang terbelah dua itu. Rumahku yang tidak pernah sempat dibangun sejak awal masa ingatanku. 

Mereka yang terlalu cepat menyerah, telah menjadikanku orang yang paling takut menyerah. Takut ketika aku menyerah ada kehidupan atau setidaknya jalan orang lain yang ku buat berantakan. Seperti kepingan yang ada di dalam ku.

Di tengah gemerlap pujian dan validasi dari sekian banyak orang yang tidak pernah ku cari dan ku paksakan sedikit pun. Aku tetap haus akan tatapan syukur dan rasa bangga Ayahku. Aku semakin kekeringan di tengah perasaannya yang sedih melihat mimpinya yang redup bersamaan dengan mimpiku yang perlahan terlihat arah muaranya.

Saat diminta persetujuan untuk lahir ke dunia, apakah aku memang seegois itu? Padahal aku pasti sudah diperlihatkan Mama yang kehilangan mimpinya untuk sekolah tinggi penuh prestasi, sesuai kapasitas pemikirannya yang luar biasa itu. Padahal aku pasti sudah diperlihatkan Ayah dan segala ekspresi sedihnya itu.

Dan aku masih setuju untuk melihatnya dalam kehidupan nyata? Aku malah setuju lahir.

Thursday, 6 March 2025

Konten Sensitif: "Kita Tidak Harus Menyenangkan Semua Orang Bel"

March 06, 2025 0



Mungkin bagi orang-orang yang sudah pernah kenal atau dalam lingkungan yang sama di sekolah, kampus atau tempat kerja, beberapa di antara mereka sudah menyadari kekurangan dan keanehan ku dalam bermasyarakat wkwk kikuk, insecurean, sensitif dan penakut.


Aku sadar diri ga akan gampang untuk masuk ke lingkungan-lingkungan yang luar biasa dengan kepribadian anehku ini.


Dulu banget di era 2015 - 2018 kehidupan ku yang berusia 18 tahun itu, aku dapat kesempatan kerja di tempat yang benar-benar menempa banyak rasa sabar, rasa syukur, rasa kemanusiaan, kreativitas dan kegigihan. Bekerja di lapangan dengan ngebopong kamera gede sementara badan ringkih (fyi, dulu aku kurus cungkring banget dan dekil karena panas-panasan mulu). Beruntung, aku dititipin Allah ke senior yang mau ngajarin banyak hal termasuk latihan wawancara yang bener ke narasumber. Alhamdulillah pekerjaan ini jadi perantara Allah dalam menolongku buat menyelesaikan kuliah saat itu.


Ada harapan kecil, semoga Allah mampukan aku untuk bisa melanjutkan kuliah, sesuai harapan Mama. Walaupun ga kepikiran selanjutnya mau gimana caranya.


Qadarullah, Allah pertemukan aku sama Ka Indah, dia masuk kantor yang sama dan bilang gini, "Menurut Ka Indah, Bella bisa lebih jauh dari ini. Coba Bella ikut rekrutmen di kantor Ka Indah dulu."


Aku si paling gas ngeng kalau ada kesempatan tumbuh, langsung semangat banget. Mixed feelings sebenarnya, karena tempat aku kerja saat itu sudah banyak kebaikan di dalamnya. Lalu berbekal nasehat dari Mama kalau usia muda ku bisa dipenuhi banyak pengalaman dengan mencoba banyak hal baru, akhirnya aku mencoba.


Aku mulai tanya-tanya ke sekitar, terutama Ka Nisa, tentang make up, tentang high heels. Karena yang aku dengar di sana orang-orangnya rapi dan cantik. Makin INSECURE lah aku kan, udah dekil, terus kulitnya gosong banget karena panas-panasan dan males pakai sunscreen. HAHAHA


Selain grooming, aku mulai tanya-tanya tentang interviewer, siapa yang akan interview dan gimana orangnya. Tapi semua jawabannya burem, "baik kok". Ah elah, semua orang juga baik kata aku mah.


Singkat cerita, di tahun 2019 memasuki usia 22 tahun-an, akhirnya aku mencoba ikutan interview. Ketemu lah sama Ka Ica, sang team leader yang ceria tapi kelihatan galak sih tapi ceria juga di waktu yang sama (gimana ya) dan Bu Iim yang keliatan keibuan tapi matanya tajem banget (yang menurut info dari orang-orang baik buaangeett). Sebenernya semuanya oke oke aja sih, cuman aku aja overthinking. Ga mungkin juga kan tiba-tiba aku di maki-maki. Tapi tetep aja takutttt!


Lalu mereka mulai tanya-tanya lah pengalaman kerja ku sebelumnya dan beberapa pertanyaan yang menurut aku ngetes relate apa ga nya dan kesiapan aku menghadapi kerjaan berikutnya. Aku bener-bener menyimak cara mereka sebagai interviewer itu (yang kemudian di masa berikutnya, aku jadiin mereka role model setiap aku dikasih amanah untuk interview rekrutmen under team).


Beres interview, aku masih ingat isi chat ke Mama:
Ma, orang-orang di sini keren semua, cantik-cantik


Aku ga pernah hidup di desa, dari lahir di kota, tumbuh di keluarga menengah yang baik-baik aja. Tapi untuk pertama kalinya, aku ngerasa kayak orang yang datang dari kampung, melamar kerja dengan segala keterbatasan keilmuan dan pengalaman yang aku punya. Se-insecure itu aku di momen itu.


Hasil rekrutmen itu ternyata... Aku ga lolos untuk jadi frontliner.


Ini kalau diingat lagi agak lucu sih, gadis polos dan lugu itu sedih tapi gengsi buat sedih. Jadi lah aku besoknya lari pagi (padahal hampir ga pernah, kecuali terpaksa ikut event kerjaan atau ada kepentingan tertentu).


Selanjutnya aku coba menerima kegagalan yang jarang banget aku lalui. Aku pikir, mungkin Allah udah mulai melihat aku bisa naik ke level pelajaran berikutnya, menerima kegagalan. Karena dipikir-pikir dari dulu semua yang aku mau, "selalu" (dalam artian benar-benar "selalu") di-iya-in sama Allah.


Beberapa minggu kemudian, aku lupa kapan tepatnya. Aku dihubungi lagi buat ngisi posisi back office. Nangis? Tentu aja~ Pertama, aku sebenernya takut karena ga biasa berinteraksi sama orang banyak sekaligus. Kalau wawancara narasumber kan ada persiapan, ada naskah. Tapi aku tetep nekat mau belajar dan berusaha di kesempatan ini. Kedua, ternyata Allah lebih tau apa yang aku sanggup, aku masuk di back office yang berkutat sama device dan frontliner.


Awal aku kerja, si penakut ini overthinking banget. Rasanya pengen cepet-cepet pinter, ga bodoh melulu, banyak ga taunya, aku berusaha sekuat tenaga buat lebih banyak ngasih support (bukannya malah ngerepotin dengan banyak tanya). Lama-kelamaan, aku mulai dipercaya sama senior-seniorku, buat handling beberapa permasalahan. Ga cuman kerjaan utama, aku mulai belajar organisasi perusahaan, mulai melihat berbagai jenis leadership dan dampaknya. Aku mulai melihat banyak urusan-urusan rumit antar divisi yang puanjaangnya bukan main. Pada saat yang sama aku juga mulai belajar menghadapi banyak jenis manusia (pelanggan) dengan berbagai luapan emosi mereka yang sebagian besar alhamdulillah bisa reda setelah aku ajak ngobrol baik-baik. Entah dari mana keberanian itu berasal, mungkin karena aku perlahan juga belajar dari senior-seniorku di frontliner yang super keren, selalu tenang dalam keadaan apapun. Akhirnya aku punya sedikit keberanian untuk mencoba berkomunikasi dengan banyak jenis manusia.


Dari team leader satu ke team leader selanjutnya, dari Ka Ica ke Nisa. Aku belajar banyak hal, menyerap sikap yang bisa aku terapkan dan beberapa hal yang bisa aku improve dan sesuaikan dengan jiwaku sendiri.


Dari satu posisi ke posisi berikutnya, aku dapat amanah kesempatan belajar jadi team leader berikutnya, dan Bu Iim jadi perantara Allah yang sangat sangat gentle. Kalau ada istilah gentle parenting, mungkin Ibu ini gentle leader ya? Haha

Pernah ada satu momen, sebenernya banyak sih. Tapi ini yang jadi pegangan aku sampai hari ini. Karena aku terlahir sebagai people pleaser grade A+, keinginanku untuk mengelola tim semenguntungkan dan semenyenangkan mungkin bagi semua orang termasuk aku, yang maunya semua berjalan efisien dan efektif secara sempurna tuh, kadang bikin emosi sendiri. Karena ternyata memang kesempurnaan itu, ga ada. Kata Ibu, setiap kali aku nangis: "Ndak apa-apa, toh kita kan ga bisa menyenangkan semua orang bel". Hahaha ampun dah cengeng banget. Maap ya bu.

Berangkat dari nasehat itu, aku terus belajar membiasakan diri, setiap kali menemukan cabang-cabang dari pilihan yang menimbulkan sisi ga enakan, aku berusaha memikirkan gambaran besarnya, keputusan yang paling bermanfaat dan paling mendekati yang terbaik untuk kebaikan tim.

-----------


Dear Ibu Iim, yang udah tau banget gimana anehnya bella, makasih banyak karena udah jadi perantara Allah ngajarin bella kelembutan, kemasabodoan untuk hal-hal yang ga perlu dipikirin banget, dan ketenangan menghadapi banyak hal absurd. Semoga semua kebaikan Ibu jadi amalan kebaikan jariyah yang mengalir terus-menerus, di antara pekerjaan-pekerjaan yang selalu bella niatkan sebagai bentuk ibadah ini, yang mana Ibu punya peran penting dalam pertumbuhan bella dari manusia penakut jadi sedikit lebih berani (seengganya kalau lagi kepepet).

Bagi bella, Ibu selalu lebih dari sekedar atasan bella di tempat kerja dulu. Rasanya ga akan pernah ada momen farewell yang bella akui, karena dimanapun Ibu diamanahi selanjutnya, bella masih akan tetap jadi bella yang sama (yang ngeselin ehehe).

Semoga Ibu selalu bahagia dan selalu dalam keadaan sehat, terima kasih kehangatannya yang super hot ya bu...

Dari anak-anakan Ibu,
Bella







Wednesday, 5 March 2025

When the Weather is Fine

March 05, 2025 0


Kebahagiaan memang begitu.

Itu adalah hal yang sulit.

Namun, kau pun

membuka matamu pagi ini untuk memulai hari

dan menjalani hari ini sekuat tenaga.

Itu sudah cukup.

Saat kebahagiaan sangat sulit untuk ditemukan,

yang kau lakukan adalah

memberikan kebahagiaan kepada seseorang.

Kita semua adalah orang yang dihargai seseorang

tanpa kita sadari.

Dengan sesederhana berusaha melanjutkan hidup di mana pun kau berada

artinya kau sudah berusaha sekuat tenaga.

Aku berterima kasih kepadamu.

Aku berharap hari ini pun malammu indah.



Kutipan dari K-drama When The Weather is Fine.

Tuesday, 5 September 2023

Keadaan dan Filter Diri

September 05, 2023 0

 

Setelah menentukan jalan dan membuat rencana kita tidak akan pernah bisa mengatur ketentuan-ketentuan di luar ikhitar manusia. Takdir, keadaan yang semestinya terjadi meskipun sudah berupaya sebaik-baiknya memetakan tujuan dan mengestimasi waktu tiba.

Ada batasan wajar sebagai manusia untuk mengendalikan diri. Termasuk ketika terjebak dalam lingkungan yang membatasi ruang gerakmu untuk tumbuh. Keadaan-keadaan yang membuatmu sesak karena tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kamu yakini.

Tetapi, seperti nasihat lama. Roda kehidupan terus berjalan dan setelah melalui masa-masa itu aku baru berani menuliskan ingatan yang cukup untuk membuatku belajar banyak tentang hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan manusia kepada manusia lainnya.

Ada kalanya, walaupun aku berharap kamu tidak mengalami ini dalam proses bertumbuhmu, kamu akan menemui ternyata manusia bisa sangat berbeda saat di depan dan di belakangmu. Ada saatnya, bahkan saat kamu ingin menutup telinga dan menjauhi segala prasangka buruk. Tuhan mendorong banyak petunjuk berdiri di depan kita sebagai 'alarm' untuk berhati-hati. Dan realita, tidak selalu manis. Setidaknya tidak semanis pikiran naif ku bahwa orang-orang membalas ketulusan dengan ketulusan yang setara. Tidak. Setiap manusia punya nilainya sendiri dan aku tidak berhak memaksakan perspektif nilaiku pada manusia lain.

Sekarang, apa pelajaran paling berkesan dalam perjalanan di lingkungan yang berat itu? Belajar memperkuat filter diri. Seperti saat aku memilih buku untuk dibaca, aku memperhatikan siapa penulisnya dan seperti apa orangnya. Karena dengan membaca tulisannya, aku telah membiarkan isi pikirannya mempengaruhi pikiranku secara sadar ataupun tidak. Nilai-nilai dalam tulisannya akan masuk dalam pikiranku dan bisa jadi ku gunakan.

Begitu juga dengan 'penilaian' seorang manusia yang berniat 'memberikan nasihat'. Tunggu dulu, jika kamu memiliki setitik kenaifan sepertiku yang berpikiran bahwa nasihat adalah bentuk keperdulian orang lain pada diri kita. Tidak selamanya begitu. Manusia itu unik sekali...

Mereka bisa memiliki tujuan-tujuannya sendiri dengan menggerakan manusia lain secara tidak manusiawi namun bersikap seolah paling manusiawi. Aku tidak menulis kalimat ini dalam kemarahan atau ancaman dan hal negatif lainnya. Aku bermaksud memberikan 'alarm' jika kamu merasa penilaian orang lain itu tidak sesuai dengan apa yang kamu yakini tentang dirimu sendiri. Bahkan setelah kamu meminta pendapat orang kepercayaanmu yang lain untuk membantumu menilai dirimu. Maka hindari penilaiannya untuk masuk ke dalam pikiranmu.

Apa itu filter diri? Aku mengartikan filter diri sebagai batasan tentang hal-hal yang bisa mempengaruhimu. Bisa jadi dari apa yang kamu lihat dan dengar setiap hari, apa yang kamu lakukan dan lingkungan tempatmu berada.



Saturday, 10 June 2023

Kehidupan yang Berputar

June 10, 2023 0


 

Tidak ada kebahagiaan yang berlangsung selamanya, begitu juga dengan kesedihan.

Mantra hari ini:
"Biasakan memandang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dengan perspektif yang baik."

Sudah berterima kasih pada Tuhan hari ini?

 
Segala yang diprasangkakan selalu bisa terjadi. Jadi biasakan menjaga pikiran dengan prasangka yang baik. Pun kalau tidak sesuai dengan prasangka baik itu. Pasti. Pasti ada kebaikan di sana.


Semangat terus yaa!

Tuesday, 6 June 2023

Tumpukan Draft

June 06, 2023 0


Sebelum tulisan ini dipublikasi, sudah ada dua draft tulisan sebelumnya yang baru selesai setengah. Karena ada kesibukan yang mengalihkan fokusku beberapa saat, dan akhirnya tulisannya? Ya. Benar. Tidak selesai haha!

Dejavu ya, mirip nasib penelitianku yang belum selesai sampai hari ini.

 

Sejauh Mei dan Juni ini aku meninjau lagi sekitar 7 jurnal, untuk memastikan lagi hal-hal yang mau aku tulis. Tapi aku selalu gagal untuk sedikit saja merasa percaya diri. Memang sejak memutuskan kuliah lagi, setiap kali pertemuan, dalam hati selalu ada pernyataan "aku tidak sepintar mereka".

Orang-orang pikir aku suka belajar. Padahal karena aku yaa.. terus merasa tidak mampu.

 

"Menurut kamu, aku bisa lulus ngga?"
"Menurut kamu, aku pantes lulus ngga?"

Dialog pertanyaan ini selalu berulang-ulang ku tanyakan pada diri sendiri. Karena kalau ditanyakan ke manusia lain, mereka akan selalu baik sekali memberikan motivasi indah.

 

Padahal menulis tidak terlalu sulit. Contohnya, saat bercerita, saat membuat caption panjang dalam media sosial dan saat aku menulis beberapa bab dalam tumpukan draft novel ku sendiri.


Tapi menulis yang baik sesuai dengan peraturan penelitian, itu beda sekali tantangannya.

Bahkan aku sering bertanya kenapa spasinya harus diatur dengan ukuran begitu.

Ya. Ada banyak hal yang tidak terlalu penting yang kutanyakan dalam setiap "peraturan menulis" ini.