Hai Ayah, mungkin sajak ku terlihat lebih sering untuk Ibu. Tetapi ketahuilah, cerita gelisahku itu lebih dulu sampai kepadamu. Perihal perasaan yang tidak bisa ku pahami. Ketika aku sudah tidak mampu menasihati diri sendiri dengan baik dan hampir menyerah pada apapun yang tidak sesuai dengan segala harapanku.
Manusia harusnya sadar, kalau ketidaksempurnaan justru adalah cara sempurna Tuhan untuk menghadirkan kebaikan. Seperti keadaan-keadaan kita yang tidak sempurna, dan Ayah tetap berusaha hadir menjadi laki-laki terbaik yang menjagaku dalam doanya.
Karena selamatku hingga detik ini adalah izin Tuhan yang mengabulkan doa Ayah dan Ibu, kan? Aku nya saja anak nakal yang suka mengeluh pada keadaan. Meletakkan ketidaksempurnaan kita menjadi alasan-alasan mengapa cara mencintaiku begitu rumit.
Seperti aku mencintai Ibu, rindu dan cemburuku juga besar padamu. Sesekali aku pikir, aku masih pantas menjadi anak kecil yang merengek padamu, tetapi tidak ya Yah. Aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam hidupmu, anak pertamamu, yang paling kuat dan baik. Aku akan begitu saja... Setelah ini, aku harus lebih bijaksana menyikapi perasaan-perasaan dengan baik. Seperti katamu, yang menginginkan bahagia untuk ku tanpa syarat apapun.
Banyak cara Tuhan memberitahuku untuk lebih bersyukur, bahwa ternyata tidak semua Ayah bisa mendekati anak gadisnya, seperti caramu, yang sering menggodaku, penasaran tentang seperti apa orang yang ku suka. Mengingatkanku untuk Taat, bahkan aku pun heran mengapa bisa tergerak sendiri mengerjakan kewajiban seperti kebiasaan mutlak. Itu pasti doa kalian...
Maka, bagaimanapun ketidaksempurnaan dan jarak kita, aku tetap membanggakanmu pada siapapun itu. Aku tetap mengikuti caramu yang tidak pernah lelah berdoa tentang kebaikan-kebaikan untuk ku. Maka semoga, aku bisa tumbuh menjadi lebih utuh, setelah sadarku ini. Terima kasih Ayah, yang tidak pernah mengeluh padaku padahal bebannya berat sekali. Terima kasih sudah susah payah mencintai anak perempuan yang suka seenaknya ini.
Jika aku ingin menjadi tempat pulang yang nyaman seperti Ibu, maka aku juga ingin menjadi yang paling mampu bertahan dikeadaan apapun sepertimu, untuk mencintai dengan sungguh dan tidak pernah berhenti melakukannya sekalipun.
No comments:
Post a Comment