Bukan waktu yang sebentar, ternyata laman ini sudah menjadi teman ternyaman bercerita sejak 2012 lalu. Hingga kemudian aku bertumbuh, pemikiran dalam tulisan-tulisan yang dahulu akhirnya diarsipkan, untuk kemudian ku baca ulang, agar tidak kehilangan beberapa bagian dari diri sendiri.
Beberapa bagian yang dahulu ku benci, dan ternyata bagian-bagian itu yang justru membawaku bertahan. Aku memberikan label hati yang lemah, sebelum mengenal istilah hati yang lembut. Aku melabeli diri dengan terlalu sensitif, sebelum mengenal istilah penyayang. Ternyata mengenali diri sendiri bukan pekerjaan yang mudah, mencintai diri sendiri juga tidak mudah. Malah lebih mudah mencintai banyak orang daripada diri sendiri.
Apresiasi terasa hambar sekali, padahal banyak orang yang hatinya begitu baik menghargai upayaku. Justru aku yang tidak menghargai usahaku sendiri, terlalu sering memaksa diri dan merasa belum cukup baik. Beberapa waktu belakangan ini, aku sedang bertanya-tanya, dimana akar masalah ini berawal? Padahal Ibu selalu menjagaku dengan baik.
Aku menemukan satu kenyataan berulang yang sepertinya telah berhasil menggangguku dari dalam diri sendiri. Kekuatan kata-kata ternyata sehebat itu ya...
Dampaknya ada yang perlahan dan tidak langsung terasa.
Cerita yang selalu berakhir dengan rasa tidak aman, ketakutan pada berkembangnya potensi diri yang padahal bukan untuk menyaingi siapapun. Bukankah sepasang itu seharusnya saling mendukung satu sama lain? Bukan justru khawatir pada perkembangan pasangannya.
Harus semerendah apa potensi seorang perempuan agar pantas sebagai sepasang bagi seorang laki-laki?
Banyak yang beradu dalam pikiranku, lalu sesaat aku merasa bahwa ini hanya soal belum bertemu manusia yang tepat.
Sunday, 25 September 2022
Writing Therapy 01 - Menjadi Perempuan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment