Monday, 15 November 2021

Point Of View

 



Pada perjalanan di dunia ini, seorang manusia diajak berpikir dan belajar melihat kehidupan dari banyak sudut pandang. Saat dekat sekali dengan suatu objek, maka aku bisa memandangnya dengan detail, fokus ku terbatas hanya pada jarak pandang tertentu. Saat diajak untuk naik ke satu tahapan kehidupan berikutnya, aku bisa melihat beberapa objek untuk diperhatikan, kemudian muncul pemikiran bahwa tidak hanya satu urusan yang harus diselesaikan segera, ada beberapa hal juga yang harus diperhatikan. Maka aku kembali diajak pada tahapan kehidupan berikutnya, kemudian aku melihat ada lebih banyak hal yang bisa diamati. Jika sebelumnya satu objek fokusku dapat diamati begitu detail dan terasa begitu besar, ternyata menjadi semakin kecil saat jarak pandangku meluas.

Sebelum kamu naik wahana bianglala, kamu bisa melihat detail wajah orang lain yang ikut mengantri disekitarmu, ekspresi, raut wajah, dan postur tubuh mereka. Tapi berapa manusia yang bisa kamu lihat saat itu? Hanya beberapa saja. Maka kau fokus pada mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka kenakan, bersama siapa mereka.

Saat kau sudah berada dalam bianglala dan putarannya mulai naik satu tahap, kau mulai tidak jelas dengan ekspresi mereka, tapi kamu bisa melihat lebih banyak orang, maka fokusmu berubah menjadi berapa banyak yang menunggu untuk naik wahana ini? Apa yang mereka rata-rata kenakan? Apa yang mereka sedang lakukan sambil menunggu? Dan sesekali mungkin pandanganmu tertuju pada beberapa yang terlihat mencolok.

Kemudian terus naik, hingga di tengah putaran kamu menyadari, banyak sekali orang yang menunggu. Kamu sudah tidak bisa melihat mereka satu per satu secara detail, tapi kamu bisa melihat ada wahana lain selain bianglala ini, kamu bisa melihat wahana mana yang lebih ramai di kerumuni orang-orang.
Hingga di puncak putaran wahana, kamu sudah tidak lagi fokus pada orang-orang yang sejak tadi terlihat oleh pandanganmu. Objek pandanganmu semakin luas, ada langit, ada jalan raya, ada gedung dikejauhan, semuanya tampak kecil. Kemudian kamu penasaran, bagaimana dengan orang-orang tadi? Saat menengok ke bawah, mereka benar-benar sudah tidak bisa dibedakan lagi. Apa yang mereka kenakan, apa yang mereka bawa, apalagi ekspresi mereka, kamu sudah tidak bisa fokus pada detail itu.

Lalu ada kesadaran dalam pikiranmu, saat kembali memandang langit yang luas. Begitu sederhana. Warnanya, objek yang tidak terlalu banyak, begitu lapang. Hingga perlahan putaran bianglala ini kembali turun, perlahan semua yang tadi terlihat kecil, kembali terlihat besar, semakin detail, semakin terbatas jarak pandamu tentang sekitar. Hingga kembali keberadaanmu menjadi di paling bawah dan kamu turun dari bianglala itu. Semuanya ramai sekali, berisik dengan tawa. Ekspresi manusia yang beragam. Lalu karena penasaran, kamu mendongak ke atas, menatap langit, yang ternyata tetap sama. Tetap lapang, tetap luas, tetap sederhana, tidak mengecil. 

Jika kamu bisa membayangkan cerita bianglala ku barusan, begitulah sudut pandangku saat berproses tentang perjalanan kehidupan ini. Aku terbiasa menyimak detail, sehingga terlihat besar sekali suatu urusan di dunia ini. Kemudian Allah mengajakku terus berjalan pada tahapan kehidupan berikutnya, dan aku semakin belajar bahwa yang awalnya ku pikir sesulit itu, sebesar itu masalahnya, ternyata itu hanya sebagian kecil dari objek sudut pandangku yang terbatas. Saat melihat langit yang begitu luas, aku paham bahwa Allah lebih besar dari yang Dia ciptakan. Masalahku jika dibandingkan dengan luasnya langit saja masih begitu kecilnya, apalagi dengan Kekuasaan Allah yang tentu pastinya lebih besar dari langit. Maka begitulah kesimpulan sementara dari pelajaran hidupku kali ini, sampai nanti aku kembali diajari Allah tentang tahap kehidupan selanjutnya.

No comments:

Post a Comment