Sekali lagi, aku menyadari usiaku sudah 28 tahun. Sekali lagi, aku menyadari aku tidak terlalu ingin menjadi orang dewasa jika hidup hanya bersama Mama. Sekali lagi, anak kecil di dalam diriku memaksa ku untuk tetap menjadi seorang anak manja. Sekali lagi, aku memaksa Mama memenuhi bagian yang kosong dari tangki cintaku yang seharusnya diisi oleh Ayah.
Sekali lagi, aku menjadi sensitif dan sedih jika Mama tidak dalam keadaan yang mengerti pikiranku. Padahal aku yang tidak bisa menjelaskan kekosonganku. Sekali lagi aku merengek. Sekali lagi aku menangis malam hari dan merasakan sesak.
Sekali lagi, di usia dewasaku. Aku masih gagal menerima keadaanku, takdirku, dan kekosonganku. Sekali lagi aku kalah telak oleh ego satu-satunya laki-laki yang menjadi cintaku selamanya. Sekali lagi, aku gagal memaafkan kekosongan yang ditinggalkannya dalam diriku. Kesempatan-kesempatan bertanya tentangku tanpa melukaiku. Waktu-waktu yang berjalan begitu saja tanpa ada kehadirannya, dengan alasan ia takut lebih melukaiku.
Sekali lagi, saat aku bisa mengerti perasaan orang lain dan menerima keadaan orang lain. Aku justru gagal menerima diri sendiri, aku telah gagal untuk mengerti keadaan orang tua ku. Sementara di luar sana aku menjadi si pengertian ulung, aku menuntut lebih dimengerti dalam rumahku yang terbelah dua itu. Rumahku yang tidak pernah sempat dibangun sejak awal masa ingatanku.
Mereka yang terlalu cepat menyerah, telah menjadikanku orang yang paling takut menyerah. Takut ketika aku menyerah ada kehidupan atau setidaknya jalan orang lain yang ku buat berantakan. Seperti kepingan yang ada di dalam ku.
Di tengah gemerlap pujian dan validasi dari sekian banyak orang yang tidak pernah ku cari dan ku paksakan sedikit pun. Aku tetap haus akan tatapan syukur dan rasa bangga Ayahku. Aku semakin kekeringan di tengah perasaannya yang sedih melihat mimpinya yang redup bersamaan dengan mimpiku yang perlahan terlihat arah muaranya.
Saat diminta persetujuan untuk lahir ke dunia, apakah aku memang seegois itu? Padahal aku pasti sudah diperlihatkan Mama yang kehilangan mimpinya untuk sekolah tinggi penuh prestasi, sesuai kapasitas pemikirannya yang luar biasa itu. Padahal aku pasti sudah diperlihatkan Ayah dan segala ekspresi sedihnya itu.
Dan aku masih setuju untuk melihatnya dalam kehidupan nyata? Aku malah setuju lahir.

No comments:
Post a Comment