
Mungkin bagi orang-orang yang sudah pernah kenal atau dalam lingkungan yang sama di sekolah, kampus atau tempat kerja, beberapa di antara mereka sudah menyadari kekurangan dan keanehan ku dalam bermasyarakat wkwk kikuk, insecurean, sensitif dan penakut.
Aku sadar diri ga akan gampang untuk masuk ke lingkungan-lingkungan yang luar biasa dengan kepribadian anehku ini.
Dulu banget di era 2015 - 2018 kehidupan ku yang berusia 18 tahun itu, aku dapat kesempatan kerja di tempat yang benar-benar menempa banyak rasa sabar, rasa syukur, rasa kemanusiaan, kreativitas dan kegigihan. Bekerja di lapangan dengan ngebopong kamera gede sementara badan ringkih (fyi, dulu aku kurus cungkring banget dan dekil karena panas-panasan mulu). Beruntung, aku dititipin Allah ke senior yang mau ngajarin banyak hal termasuk latihan wawancara yang bener ke narasumber. Alhamdulillah pekerjaan ini jadi perantara Allah dalam menolongku buat menyelesaikan kuliah saat itu.
Ada harapan kecil, semoga Allah mampukan aku untuk bisa melanjutkan kuliah, sesuai harapan Mama. Walaupun ga kepikiran selanjutnya mau gimana caranya.
Qadarullah, Allah pertemukan aku sama Ka Indah, dia masuk kantor yang sama dan bilang gini, "Menurut Ka Indah, Bella bisa lebih jauh dari ini. Coba Bella ikut rekrutmen di kantor Ka Indah dulu."
Aku si paling gas ngeng kalau ada kesempatan tumbuh, langsung semangat banget. Mixed feelings sebenarnya, karena tempat aku kerja saat itu sudah banyak kebaikan di dalamnya. Lalu berbekal nasehat dari Mama kalau usia muda ku bisa dipenuhi banyak pengalaman dengan mencoba banyak hal baru, akhirnya aku mencoba.
Aku mulai tanya-tanya ke sekitar, terutama Ka Nisa, tentang make up, tentang high heels. Karena yang aku dengar di sana orang-orangnya rapi dan cantik. Makin INSECURE lah aku kan, udah dekil, terus kulitnya gosong banget karena panas-panasan dan males pakai sunscreen. HAHAHA
Selain grooming, aku mulai tanya-tanya tentang interviewer, siapa yang akan interview dan gimana orangnya. Tapi semua jawabannya burem, "baik kok". Ah elah, semua orang juga baik kata aku mah.
Singkat cerita, di tahun 2019 memasuki usia 22 tahun-an, akhirnya aku mencoba ikutan interview. Ketemu lah sama Ka Ica, sang team leader yang ceria tapi kelihatan galak sih tapi ceria juga di waktu yang sama (gimana ya) dan Bu Iim yang keliatan keibuan tapi matanya tajem banget (yang menurut info dari orang-orang baik buaangeett). Sebenernya semuanya oke oke aja sih, cuman aku aja overthinking. Ga mungkin juga kan tiba-tiba aku di maki-maki. Tapi tetep aja takutttt!
Lalu mereka mulai tanya-tanya lah pengalaman kerja ku sebelumnya dan beberapa pertanyaan yang menurut aku ngetes relate apa ga nya dan kesiapan aku menghadapi kerjaan berikutnya. Aku bener-bener menyimak cara mereka sebagai interviewer itu (yang kemudian di masa berikutnya, aku jadiin mereka role model setiap aku dikasih amanah untuk interview rekrutmen under team).
Beres interview, aku masih ingat isi chat ke Mama:
Ma, orang-orang di sini keren semua, cantik-cantik
Aku ga pernah hidup di desa, dari lahir di kota, tumbuh di keluarga menengah yang baik-baik aja. Tapi untuk pertama kalinya, aku ngerasa kayak orang yang datang dari kampung, melamar kerja dengan segala keterbatasan keilmuan dan pengalaman yang aku punya. Se-insecure itu aku di momen itu.
Hasil rekrutmen itu ternyata... Aku ga lolos untuk jadi frontliner.
Ini kalau diingat lagi agak lucu sih, gadis polos dan lugu itu sedih tapi gengsi buat sedih. Jadi lah aku besoknya lari pagi (padahal hampir ga pernah, kecuali terpaksa ikut event kerjaan atau ada kepentingan tertentu).
Selanjutnya aku coba menerima kegagalan yang jarang banget aku lalui. Aku pikir, mungkin Allah udah mulai melihat aku bisa naik ke level pelajaran berikutnya, menerima kegagalan. Karena dipikir-pikir dari dulu semua yang aku mau, "selalu" (dalam artian benar-benar "selalu") di-iya-in sama Allah.
Beberapa minggu kemudian, aku lupa kapan tepatnya. Aku dihubungi lagi buat ngisi posisi back office. Nangis? Tentu aja~ Pertama, aku sebenernya takut karena ga biasa berinteraksi sama orang banyak sekaligus. Kalau wawancara narasumber kan ada persiapan, ada naskah. Tapi aku tetep nekat mau belajar dan berusaha di kesempatan ini. Kedua, ternyata Allah lebih tau apa yang aku sanggup, aku masuk di back office yang berkutat sama device dan frontliner.
Awal aku kerja, si penakut ini overthinking banget. Rasanya pengen cepet-cepet pinter, ga bodoh melulu, banyak ga taunya, aku berusaha sekuat tenaga buat lebih banyak ngasih support (bukannya malah ngerepotin dengan banyak tanya). Lama-kelamaan, aku mulai dipercaya sama senior-seniorku, buat handling beberapa permasalahan. Ga cuman kerjaan utama, aku mulai belajar organisasi perusahaan, mulai melihat berbagai jenis leadership dan dampaknya. Aku mulai melihat banyak urusan-urusan rumit antar divisi yang puanjaangnya bukan main. Pada saat yang sama aku juga mulai belajar menghadapi banyak jenis manusia (pelanggan) dengan berbagai luapan emosi mereka yang sebagian besar alhamdulillah bisa reda setelah aku ajak ngobrol baik-baik. Entah dari mana keberanian itu berasal, mungkin karena aku perlahan juga belajar dari senior-seniorku di frontliner yang super keren, selalu tenang dalam keadaan apapun. Akhirnya aku punya sedikit keberanian untuk mencoba berkomunikasi dengan banyak jenis manusia.
Dari team leader satu ke team leader selanjutnya, dari Ka Ica ke Nisa. Aku belajar banyak hal, menyerap sikap yang bisa aku terapkan dan beberapa hal yang bisa aku improve dan sesuaikan dengan jiwaku sendiri.
Dari satu posisi ke posisi berikutnya, aku dapat amanah kesempatan belajar jadi team leader berikutnya, dan Bu Iim jadi perantara Allah yang sangat sangat gentle. Kalau ada istilah gentle parenting, mungkin Ibu ini gentle leader ya? Haha
Pernah ada satu momen, sebenernya banyak sih. Tapi ini yang jadi pegangan aku sampai hari ini. Karena aku terlahir sebagai people pleaser grade A+, keinginanku untuk mengelola tim semenguntungkan dan semenyenangkan mungkin bagi semua orang termasuk aku, yang maunya semua berjalan efisien dan efektif secara sempurna tuh, kadang bikin emosi sendiri. Karena ternyata memang kesempurnaan itu, ga ada. Kata Ibu, setiap kali aku nangis: "Ndak apa-apa, toh kita kan ga bisa menyenangkan semua orang bel". Hahaha ampun dah cengeng banget. Maap ya bu.
Berangkat dari nasehat itu, aku terus belajar membiasakan diri, setiap kali menemukan cabang-cabang dari pilihan yang menimbulkan sisi ga enakan, aku berusaha memikirkan gambaran besarnya, keputusan yang paling bermanfaat dan paling mendekati yang terbaik untuk kebaikan tim.
-----------
Dear Ibu Iim, yang udah tau banget gimana anehnya bella, makasih banyak karena udah jadi perantara Allah ngajarin bella kelembutan, kemasabodoan untuk hal-hal yang ga perlu dipikirin banget, dan ketenangan menghadapi banyak hal absurd. Semoga semua kebaikan Ibu jadi amalan kebaikan jariyah yang mengalir terus-menerus, di antara pekerjaan-pekerjaan yang selalu bella niatkan sebagai bentuk ibadah ini, yang mana Ibu punya peran penting dalam pertumbuhan bella dari manusia penakut jadi sedikit lebih berani (seengganya kalau lagi kepepet).
Bagi bella, Ibu selalu lebih dari sekedar atasan bella di tempat kerja dulu. Rasanya ga akan pernah ada momen farewell yang bella akui, karena dimanapun Ibu diamanahi selanjutnya, bella masih akan tetap jadi bella yang sama (yang ngeselin ehehe).
Semoga Ibu selalu bahagia dan selalu dalam keadaan sehat, terima kasih kehangatannya yang super hot ya bu...
Dari anak-anakan Ibu,
Bella
No comments:
Post a Comment